Partisipasi kalangan industri IT dalam menghadapi tantangan Global Climate Change ---yang kini tengah dibahas tuntas-habis oleh panel ahli lingkungan hidup PBB yang berhimpun dalam IPCC : Intergovernmental Panel on Climate Change bersama perwakilan dari 180+ negara sedunia dalam konvensi Global Climate Change di Bali dari tgl 03 DEC - 14 DEC--- sesungguhnya telah mulai berlangsung sejak beberapa tahun belakang terutama dengan semangat “IT goes green”; yang fokus pada langkah guna menemukan operasi komputer yang hemat energi. Dengan upaya membuat prosesor pc ataupun mengoperasikan perangkat server yang hemat energi, maka pada akhirnya pun akan mengurangi konsumsi daya listrik yang dalam situasi terkini di kebanyakan negeri industri maju; upaya penting apalagi untuk intensitas penggunaan IT di negeri peringkat teratas 1-2-3 dalam penghasil cemaran gas rumah kaca “Highest CO2-emitting Power Sectors” :
1 - Amerika Serikat | 2 - China | 3 - Rusia .
Google yang mengoperasikan lebih dari 200.000 server (data awal 2006) di seluruh penjuru dunia selang seminggu menjelang ajang konferensi IPCC di Bali berlangsung lantas pantas pula kemudian membuat kejutan manis ---yakni dengan tidak cuma berupaya melaksanakan langkah penghematan energi dengan langkah seperti di atas--- namun dengan mengumumkan akan menyediakan dana senilai sekitar $ 100 milyar dolar untuk investasi pada industri yang mengembangkan energi alternatif yang bersumber dari energi terbarukan: re-newable energy. 10 milyar tahap pertama pendanaan pun kini telah siap dikucurkan.
Inisiatif proyek yang diberi nama RE-less than-C (kependekkan dari “renewable energy less than coal”), memuat sasaran proyek untuk menghasilkan daya listrik sebesar 1 Giga-watt dengan segala ragam sumber energi yang terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan lebih murah dibandingkan dengan sumber energi batu bara. Harga produksi listrik dari pembakaran batu bara saat ini yakni; 2,5 sen dolar AS per KWH: Kilo-watt-hour.
Hampir separuh dari pembangkit energi listrik di AS saat ini bersumber dari pembakaran batu bara. Prosentase pemakaian batu bara serupa ini dalam lingkup global adalah : 40%. Padahal diantara seluruh jenis bahan bakar fosil saat ini: BBM, gas alam, dan batu bara; maka pembakaran batu bara adalah sumber polusi paling buruk serta sekaligus sebagai penghasil terjelek efek gas rumah kaca.
Petinggi Google meyakini akan kepentingan investasi strategis dalam bidang energi listrik yang bersumber dari energi terbarukan; dan alternatif yang menjadi pilihan teratas yakni pengembangan teknologi; panas-matahari /solar-thermal, angin, dan geothermal. Google bahkan amat berambisi tinggi untuk mendapatkan hasil yang nyata dalam jangka waktu yang secepat-cepatnya, hingga inisiatif investasi di bidang energi ini pun siap pula didanai oleh Google.org sebagai institusi yang memang dibentuk tersendiri diluar tatanan bisnis Google Inc guna mengelola aktivitas philathropis, a.l: program pengentasan kemiskinan di muka bumi.
Google mulai tahun depan pun dikabarkan akan mempekerjakan 20 - 30 tenaga berkeahlian bidang energi guna mengisi divisi pengelolaan sumber energi ramah lingkungan (clean-energy) yang tengah disiapkan untuk menggarap lahan bisnis diluar teknologi IT.
Telah terungkap pula dalam publikasi media, bahwa walau kini 2 serangkai Sergey Brin & Larry Page sang pendiri Google termasuk dalam jajaran 10 orang terkaya sedunia tahun 2007 menurut sajian riset Forbes ; gaya hidup keduanya dikenal cukup wajar bersahaja disamping benar-benar memang mempraktekkan gaya yang berorientasi pro pelestarian lingkungan.
Faktanya; keduanya lebih memilih berkendaraan mobil berteknologi hybrid Toyota Prius yang hemat energi dan ramah lingkungan dibanding memakai kendaraan mewah berharga mahal namun lebih boros energi.
Cocok pula dengan falsafah dasar berbisnis milik Google: “Dont do evil”.
dQ.taruna@gmail.com
No comments:
Post a Comment